Ibu....sungguh kata yang teramat mulia. Disanjung dan di hormati, setiap kata yang terucap dari mulutnya adalah sebuah doa dan rahmat bagi anak-anaknya. Kasih sayangnya tak pernah bisa dibandingkan denga apapun. Bahkan Allah SWT menempatkannya diposisi yang paling mulia.
Saya pribadi sangat menyayangi Ibu saya, saya bahkan tidak peduli seberapa buruknya orang diluar sana menilai Ibu saya, bagi saya beliau adalah sosok yang sangat mulia. Beliau tidak pernah mengajarkan dengan lisan bagaimana saya harus menjadi seorang anak gadis yang baik, penuh sopan santun. Bagaimana menjadi seorang anak gadis yang bisa menjaga dirinya diluar sana. Melalui gerak geriknya, senyum diwajahnya, cara beliau bertutur kata, saya belajar bagaimana menjadi seorang anak gadis yang baik. Tentu saja Ibu bukan sosok yang sempurna, beliau juga manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa saja khilaf. Namun saya selalu memaafkan beliau, karena saya merasa saya tidak punya hak untuk marah atau pun membencinya.
Ketika mengunjungi toko buku Gramedia beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah buku yang menarik perhatian saya. Dari judulnya saja sudah membuat saya penasaran. Sosok Ibu seperti apa yang akan diceritakan oleh sang penulis. Anak seperti apa yang akan diceritakan oleh sang penulis. Tanpa berpikir panjang saya lalu memutuskan ntuk membeli buku ini.
Setelah membaca buku ini, hati saya merasa sangat sakit. Kenapa masih banyak Perempuan diluar sana yang tidak mensyukuri anugerah yang telah diberikan Allah SWT padanya, menjadi seorang Ibu. Buikankah seorang perempuan akanmerasa dirinya sempurna jika dia telah menjadi seorang Ibu?.
Ibu adalah sosok yang sangat di agungkan oleh seorang anak. Namun, apa yang akan terjadi jika sosok Ibu yang seharusnya memberikan perlindungan dan kasih sayang berubah menjadi sosok yang begitu sangat menakutkan. Berubah menjadi sosok monster yang begitu kejam. Sosok yang seharusnya menyayangi anaknya tapi tidak sepenuhnya menyayangi anaknya. Jangankan menyayangi, sang Ibu bahkan kerap melakukan penyiksaan secara fisik pada anaknya. Bahkan, sosok ibu itu tampil sebagai seorang perempuan yang kasar,
culas dan tak menyimpan sedikit pun rasa cinta dan kasih sayang pada
anaknya.
Dalam buku Ibuku Tak Menyimpan Surga Di Telapak Kakinya inilah sang penulis Triani Retno .A berusaha menguak sisi gelap seorang ibu.
Adalah Amelia Citra, seorang gadis yang sejak kecil diperlakukan tidak baik oleh ibu kandungnya sendiri. Ibunya yang menikah di usia belia itu selalu menyiksa dan memukuli Amelia dengan benda-benda yang meninggalkan bekas pada tubuh gadis malang itu. Entah, Amelia juga tidak bisa menerka seperti apa isi hati dan pikiran ibu yang memperlakukannya seperti binatang.
Adalah Amelia Citra, seorang gadis yang sejak kecil diperlakukan tidak baik oleh ibu kandungnya sendiri. Ibunya yang menikah di usia belia itu selalu menyiksa dan memukuli Amelia dengan benda-benda yang meninggalkan bekas pada tubuh gadis malang itu. Entah, Amelia juga tidak bisa menerka seperti apa isi hati dan pikiran ibu yang memperlakukannya seperti binatang.
Penyiksaan dan lontaran sumpah serapah yang diterima Amelia
menjadikannya sosok yang tangguh. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan
kasar ibunya. Sementara itu, Bapak Amelia, yang diharapkan Amelia
menjadi pembela dan pelindungnya ketika mendapat perlakuan kasar hanya
bergeming. Bapak seolah-olah acuh dengan sikap yang dilakukan ibunya.
Selepas SMA, tuntutan demi tuntutan kerap ibu lancarkan pada
Amelia. Ibu ingin Amelia mengganti semua biaya hidup yang dikeluarkannya
sejak Amelia kecil hingga lulus SMA. Mau tidak mau Amelia pun harus
bekerja sambil kuliah. Demi mewujudkan cita-cita dan memenuhi tuntutan
ibunya, Amelia harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Amelia
mengambil kuliah kelas eksekutif yang dilaksanakan pada malam hari.
Namun, ibu Amelia tidak pernah berusaha memahami posisi anaknya.
Dia lebih terpengaruh gunjingan tetangga ketimbang memahami anaknya yang
bekerja di siang hari dan kuliah di malam hari. Karena sering pulang
malam, para tetangga mengguncing Amelia sebagai perempuan yang “tidak
benar”. Penjelasan yang diberikan Amelia tidak membuat ibunya paham.
Sebaliknya, ibunya selalu marah-marah tidak keruan. Padahal, biaya hidup
sehari-hari keluarga kecil itu sudah Amelia yang menanggung dari hasil
kerjanya sebagai tenaga administrasi di sebuah pabrik daging
Sementara di tempat kerja, Amelia juga tidak bisa hidup tenang. Bu
Rini, atasannya yang merasa tersaingi dengan kehadirannya selalu
berbuat ulah. Amelia difitnah dekat dengan manajernya, Pak Yos. Bahkan,
ada seseorang yang menyebarkan foto vulgar hasil rekayasa yang
menampakkan wajah Amelia.
Amelia masih bersyukur dalam hidupnya mempunyai seorang sahabat yang tulus dan selalu mendengarkan keluh-kesahnya. Santi, teman kuliahnya yang ternyata adalah perempuan malang yang waktu kecil dibuang di tempat sampah dan diasuh di sebuah panti asuhan itu, yang membuat Amelia selalu bersabar dan mensyukuri hidup. Meskipun dia tidak pernah mengerti dengan sikap ibunya yang selalu berbuat kasar, tidak hanya pada fisik tapi juga hatinya.
Amelia masih bersyukur dalam hidupnya mempunyai seorang sahabat yang tulus dan selalu mendengarkan keluh-kesahnya. Santi, teman kuliahnya yang ternyata adalah perempuan malang yang waktu kecil dibuang di tempat sampah dan diasuh di sebuah panti asuhan itu, yang membuat Amelia selalu bersabar dan mensyukuri hidup. Meskipun dia tidak pernah mengerti dengan sikap ibunya yang selalu berbuat kasar, tidak hanya pada fisik tapi juga hatinya.
Novel ini adalah potret buram seorang ibu yang tidak seharusnya
menjadi contoh. Sosok ibu seperti Bu Amir, ibu Amelia Citra, adalah
potret seorang ibu yang selama ini mungkin juga hadir dalam kehidupan
nyata. Tidak sedikit media yang mengungkap kasus penyiksaan anak yang
dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Semua perlu ditelisik dan dikaji,
ada apa dengan psikis mereka sehingga bersikap tak ubahnya binatang
yang dengan tega menyirami anaknya dengan air panas, memukuli mereka
dengan kayu rotan, atau, seorang ayah yang memperkosa anak gadisnya
dengan keji.
Dalam ending novel ini, penulis juga menjawab rasa penasaran pembaca tentang sosok seorang ibu yang sedemikian jahatnya pada anak kandungnya sendiri. Apa yang menyebabkan seorang ibu kandung tega berbuat kasar, bahkan, berani menjual darah dagingnya sendiri? Adakah trauma masa lalu yang menyebabkan sosok perempuan penyimpan surga di telapak kakinya itu berbuat nista terhadap anak-anaknya?.

0 komentar:
Posting Komentar